Sabtu, 7 Mei 2011

Belajar dari Kematian

Kuburan adalah pintu dan semua manusia akan memasukinya. Itulah rumah di masa depan kita. Rumah itu adalah rumah kenikmatan jika kita di dunia berbuat dengan yang apa diridhai Allah, namun bila menyelisihinya, azab adalah tempat tinggalnya. Keduanya adalah tempat kembali. Tidak ada manusia yang tinggal selain di kedua tempat tersebut, maka sudahkah kita memutuskan, rumah manakah yang kita pilih?

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Qur’an Al Mulk : 2)

Teladan Dalam Kematian
Sahlah binti Mulhan, menikah dengan Abu Thalhah dan Allah menganugerakan kepada mereka seorang anak. Mereka memberi nama anak ini dengan Umair. Suatu hari anak tersebut sakit keras. Sebelum Abu Thalhah berangkat bekerja, ia mencium anak itu. Tidak berapa lama kemudian Allah Yang Maha Kuasa pun memanggilnya. Marilah kita melihat apa yang dilakukan Sayyidah Sahlah r.a. ketika kematian telah menjemput anaknya! Apakah ia merobek-robek pakaiannya, apakah ia menampar pipinya? Apakah ia menyeru dengan seruan jahiliyah? Tidak, namun yang ia katakan adalah innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun (sesungguhnya kita semuanya milik Allah, dan kita semua akan kembali kepadanya), tidak ada tempat lari dari pertemuan kepada Allah).

Sahlah kemudian memandikan jasad anaknya, mengafani, dan menyolatkannya, setelah itu mengkuburkannya. Lalu, pada malam harinya suaminya pulang dari bekerja. Ia lalu mempersiapkan dirinya dan makanan untuk suaminya. Suaminya pun menikmati makanan yang dihidangkannya dan malam itupun berkumpul suami istri. lalu ia bertanya, "Bagaimanakah keadaan Umair, wahai istriku?" Perkataan yang sungguh menakjubkan, namun jawaban yang diberikan Sahlah jauh lebih menakjubkan. "Bagaimana keadaaannya?" Maka bagaimanakah jawaban yang diberikan sahabat yang telah mengikat tangan Rasulullah saw. ini? Ia berkata, "Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya Umair tengah menikmati malam harinya, ia tidak merasakah lelah, ia tengah tidur dengan tenang."

Ketika Abu Thalhah hendak berangkat salat fajar ke masjid, ia bertanya kepada istrinya, "Di manakah Umair? Saya hendak menciumnya." Maka apakah jawaban yang diberikan Sahlah, apakah ia akan berdusta?

Sungguh mereka tidak mengenal perkataan dusta dan bohong. Rasululalh telah mendidik mereka. Ia menjawab, "Wahai Abu Thalhah, sesungguhnya saya dalam kesedihan." Abu Thalhah bertanya, "Mengapa?" Ia menjawab, "Tetangga telah meminjamkan sesuatu kepadaku, tetapi ia kemudian mengambilnya kembali." Abu Talhah berkata, "Apakah engkau akan sedih bila mereka mengambil titipanya?" Maka berkatalah Sahlah, "Apakah engkau akan sedih wahai Abu Thalhah bila Allah mengambil titipan-Nya dari kita?"

Maka saat itu tidak terdengar dari lisan Abu Thalhah, melainkan kalimat innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Ia kemudian pergi ke masjid untuk menunaikan salat fajar berjamaah bersama Rasulullah saw. Setelah salat usai, ia menceritakan ucapan istrinya kepada Rasulullah. Maka, nampaklah senyum keridaan dari kedua bibir beliau, atas apa yang telah diperbuat Sahlah r.a., lalu beliau mendoakan Abu Thalhah. Doa yang membuka pintu langit yang tinggi. "Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua wahai Aba Thalhah"

Belajar dari Kematian
Bilal bin Rabah tatkala berada dalam sakaratul maut, istrinya berkata, "Alangkah sedihnya." Bilal kemudian membuka matanya dan berkata, "Katakanlah, 'Alangkah gembiranya saya akan berjumpa dengan para kekasihku, muhammad dan para sahabatnya'."

Tatkala Ibrahim a.s. tengah tidur di atas kasur kematiannya, datanglah malaikat pencabut nyawa. Ibrahim lalu berkata kepadanya, "Engkau datang ataukah akan menyabut nyawa wahai malaikat maut?" Malaikat maut menjawab, "Saya datang untuk mencabut nyawamu wahai kekasih Ar-Rahman." Maka, berkatalah Ibrahim, "Wahai malaikat maut, apa pendapatmu tentang seorang kekasih yang mematikan kekasihnya?"

Maka, Allah mewahyukan jawaban kepada malaikat maut. Berkatalah malaikat maut, "Wahai kekasih Ar-Rahman, As-Salam (Allah) membacakan salam kepadamu dan berkata kepadamu, 'Apakah pendapatmu tentang seorang kekasih yang enggan bertemu dengan kekasihnya?'

Allah berfirman yang artinya, 'Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, Itulah yang kamu selalu daripadanya'." (Q.S. Qaf: 19).
Wallahu’alam. 

Orang yang didoakan para Malaikat

Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)

Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Maraji' :
Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005

.::.

SEKADAR RENUNG-RENUNGAN...



Berhenti Berarti Mati

Oleh: Ustadz Abdul Muiz
Anas bin Malik mengatakan tentang Abdullah bin Ummi Maktum yang secara kondisi fisik buta. Tapi pada perang Yarmuk, Abdullah bin Ummi Maktum hadir di tengah para mujahidin di medan perang, memakai baju besi, memegang bendera. Anas bin Malik bertanya, wahai Abdullah bin Ummi Maktum, bukankah Rasulullah saw telah memberi udzur kepadamu? Ia menjawab, “Ya betul, memang dalam Al Quran telah diberikan udzur kepada orang buta. Tetapi saya menginginkan dengan kehadiran saya di sini, di medan perang, paling tidak dapat menambah jumlah tentara Islam.”

Diceritakan lagi ketika tentara Holagu masuk ke kota Baghdad, terdapat seorang ulama yang juga buta. Dia menghadang tentara dengan mengayunkan pedang ke kanan dan ke kiri barangkali ada musuh yang kena. Secara logika, apa yang bisa dilakukan oleh orang yang dalam kondisi seperti itu? Barangkali kalau dia duduk di rumah dia tidak dosa dan tidak ada pertanggung jawabannya di sisi Allah. Tapi masalahnya, ia ingin berkontribusi, ingin aktif.

Kisah kisah semacam ini banyak dalam kisah tabiin. Yang kita inginkan dalam tarbiyah adalah para kader dakwah seperti itu. Meskipun sudah udzur tetap saja bersemangat berjuang, berjuang, berjuang. Kendala fisik, materi, kondisi ekonomi, minimnya sarana, dan kendala-kendala duniawi lain bukanlah halangan manakala iman sudah tertanam kuat di dada.

Suatu ketika Imam Ahmad bin Hambal ditanya muridnya, “mataa yajidul abdu tha’marrahah?” "kapan seseorang bisa beristirahat?” Ia menjawab, “Indamaa yatha’u ihda qadamaihi fil jannah” (“Jika kita telah menginjakkan kaki di Surga, maka disanalah kita akan beristirahat”). Artinya sebelum mati, tidak ada waktu untuk senang senang istirahat. Laa rahata li du’at illa ba’dal mamaat (tidak ada kamus berleha-leha bagi para da'i kecuali setelah mati). Itu kata Syaikh Ahmad Rasyid. Jadi barangsiapa yang mau istirahat silahkan mati. Meskipun setelah itu juga belum tentu bisa istirahat karena tidak ada amal.** [Repost]

NILAI SEORANG ANAK (SEKADAR UNTUK TATAPAN SEMUA)


Semalam merupakan hari pertama saya membuat praktikal di hospital. Di Rusia, untuk tahun kedua perubatan, disebabkan masih tidak banyak yang dipelajari, maka sukatan untuk praktikal adalah membuat kerja-kerja yang berkaitan dengan kejururawatan. Semua rakan-rakan telah pulang ke Malaysia menikmati cuti indah bersama keluarga, hanya saya yang gatal kaki untuk cuba mencari pengalaman di sini.
Sepanjang satu hari semalam, hanya satu yang mahu dikongsi. Ceritanya begini.
Jururawat memanggil kami (saya dan seorang lagi pelajar), untuk membantunya membersihkan badan-badan pesakit. Ketika sudah selesai dua tiga orang pesakit, kami mendekati seorang tua, yang berselimut. Ketika kami sampai, di bilik tersebut ada 4 orang pesakit yang lain turut menempati bersama di bilik tersebut.
Jururawat itu, menarik kain selimut yang menyelimuti badan pakcik tua ini, dan dengan itu jugalah, keluar bauan yang sungguh memedihkan hidung. Kami dapati, katil pakcik ini penuh dengan najis (tahi). Hanya Allah yang tahu bau dia macam mana. Ketika ini, dua orang pesakit keluar dari bilik ini untuk duduk di luar, tidak tahan bau yang dihasilkan. Jururawat meminta pakcik ini untuk turun dari katil, dan digagahi oleh seorang pelajar lagi. Saya tidak berani mendekati, hanya memerhati apa yang dilakukan.
Kerja-kerja pembersihan dilakukan, ketika sedang berdiri ini, pakcik tua ini, yang kakinya tidak gagah untuk berdiri, yang ditongkat oleh pelajar, telah membuang air besar di situ juga. Kami yang ada di situ hanya pasrah. Saya hanya membantu menarik kain-kain tilam dari katil. Jururawat menunggu sehingga pakcik ini selesai membuang hajatnya.
Jururawat memberitahu, bahawa pakcik ini selama dia sakit, tiada siapa yang menziarahinya. Dalam hati kecil, kesedihan membungkam jiwa saya. Jururawat ini, mula mengelap bahagian badan pakcik ini, pakcik ini megadu letih berdiri. Kemudian, kami menarik cadar dari tilam dan menggantikannya dengan yang baru. Badan pakcik tua itu dibersihkan sebelum dia dibenarkan baring kembali.
Selesai itu, lantai dibersihkan dari najis yang dibuang oleh pakcik ini. Setelah segalanya selesai, pakcik tua diberikan baju untuk dipakai semula.
Setelah selesai semua sekali, kami beredar dari bilik tersebut. Saya mengambil tempat di bilik rehat. Hati betul-betul terasa. Merasakan bahwa begitu berharganya seorang anak apabila ibubapa sudah sampai di usia seperti pakcik itu.
Ketika menulis ini, tidak tahu bagaimana mahu mengungkap perasaan ketika itu. Dalam hati hanya berdoa:
"Ya Allah, kau matikanlah daku sebelum sempat aku menderhaka kepada kedua ibu bapaku, dan jika kau anugerahiku isteri dan zuriat, kau matikanlah daku sebelum sempat mereka derhaka kepadaku."
Balik petang itu dengan seribu satu perasaan gelisah. Gelisah jika diri berada di situasi anak-anak pakcik itu, tidak bersabar malah meninggalkan ibubapa di rumah pesakit. Gelisah jika anugerah isteri dan anak-anak, jadi seperti pakcik itu. Mudah-mudahan diri ini dijauhkan dari segala yang pakcik itu hadapi.
*****
Arzalil 'umur (surah al-hajj:5) - waktu di mana seseorang sudah hilang kewarasan akal, seperti mana seorang bayi kecil. Di waktu ini, semua ciri-ciri budak kecil ada pada lelaki berumur. Kebersihan dirinya, semuanya bergantung kepada orang lain untuk menguruskannya.
Moga-moga diriku dijauhkan dari tahap waktu umur ini.

Hebatnya Seorang Ibu | iluvislam.com + discover the beauty of islam

Hebatnya Seorang Ibu | iluvislam.com + discover the beauty of islam

KUAH ROJAK


BAHAN-BAHANNYA...


Cili kering @ cili api - ikut suka nak pedas mana
1kg gula pasir
11/2 senduk gula merah2 kotak belacan
2 botol sos tomato
1 botol kicap pekat
1/2 tin petis udang


CARA-CARANYA:
campurkan semua bahan2 tadi dan masak dengan api yang sederhana sehingga pekat...(ikut citarasa masing2)